Bunga Untuk Ritual Dan Upacara, Makna Dan Pantangan Tradisi



Tanaman dan bunga tidak hanya sebagai hiasan rumah dan bahan herba, tetapi juga mengandung makna yang tinggi dibeberapa tradisi. Dalam tradisi kuno Asia Barat, terlebih wilayah India, bunga untuk ritual memiliki nilai tersendiri. Ada aturan khusus yang kini tetap dijalankan agar ritual berjalan dengan baik. Tanaman dan bunga ritual memiliki kisah legenda, mitologi ini menyebutkan hubungan antara bunga dan para dewa.

Bunga Untuk Ritual Dan Upacara

Banyak yang tidak mengerti, dalam setiap upacara sangat ditentukan dari tanaman dan bunga yang digunakan. Tidak semua tanaman diperbolehkan untuk digunakan karena mengandung aura negatif. Memilih warna bunga dan bagaimana meletakkannya pada bagian tubuh, juga mempengaruhi jiwa seseorang. Begitupula tanaman yang tumbuh didepan rumah, bukan sekedar bunga hias tetapi juga mempengaruhi kehidupan penghuninya. 

Bunga Untuk Ritual Dan Upacara


Menurut tradisi dan budaya Asia Barat, bunga dapat bermakna sangat ganas, ringan, dan kuat efeknya. Ada beberapa bunga yang bisa dipersembahkan dan ritual dan sangat beragam. Mitos ini tercatat dalam mitologi Mahabharata tentang jenis-jenis bunga yang harus dipersembahkan kepada para Dewa dan bagaimana cara mempersembahkannya. Disebutkan dalam legenda:
  1. Bunga-bunga yang memiliki aroma yang menyenangkan bisa digunakan untuk ritual dan persembahan kepada para Dewa. Bunga dari tanaman berduri dan berwarna putih paling bisa diterima. 
  2. Bunga akuatik seperti teratai bisa digunakan dalam upacara persembahan kepada Gandharvas, Nagas dan Yakshas. 
  3. Bunga berwarna merah memiliki energi yang sangat tinggi, tajam dan menyakitkan ketika disentuh. Karakteristik bunga ini biasanya tumbuh pada tanaman berduri. 
  4. Bunga berwarna merah tua atau mendekati hitam harus dipersembahkan kepada roh jahat dan makhluk yang tidak wajar. 
  5. Bunga yang menggembirakan pikiran dan hati, bentuknya indah dan menyenangkan, bisa diberikan kepada manusia untuk mengungkapkan perasaan. 
  6. Bunga yang tumbuh di pegunungan dan lembah yang terasa indah dan aromanya menyenangkan, bisa dijadikan ritual dan dipersembahkan kepada para Dewa. 

Menurut mitos, para Dewa akan merasa puas dengan aroma bunga yang dipersembahkan. Yakshas dan para Rakshas akan merasakan melalui penglihatannya, Nagas merasakannya dengan sentuhan. Sedangkan manusia akan merasakannya dengan tiga indera yaitu aroma, penglihatan dan sentuhan kulit. Semua bunga yang wangi sangat sesuai untuk upacara ritual, atau persembahan para dewa. Kecuali jenis tanaman Boswellia berduri atau bergerigi, karena tanaman ini mempunyai aturan tersendiri.


Adapun beberapa tradisi ketika melakukan ritual, persembahan, dan upacara, sebaiknya mengikuti aturan dan pantangan berikut: 
  1. Yang terbaik dibuat menjadi dupa adalah tanaman Mur atau Myrrh (Balsamodendron Mukul) dan tanaman gaharu (Aquilaria Agallocha). Kedua tanaman ini sangat disukai Yakshas, para Rakshasas dan Nagas.
  2. Bunga sejenis Boswellia berduri/bergerigi sangat diinginkan oleh Daityas (ras Asura). 
  3. Dupa yang terbuat dari tanaman sakhua (Shorea Robusta) dan pinus (Cedrus deodara) ditahbiskan untuk manusia. 
  4. Dalam ritual pemberian lampu/cahaya, energi dan nyala api memiliki gerakan ke atas sehingga dapat meningkatkan energi manusia. 
  5. Ketika Bhishma menasihati Yudhistira, dia menyarankan agar seseorang yang memiliki kecerdasan harus melengkapi anggota tubuhnya dengan kain ungu. Kain ini terbuat dari tanaman priyangu atau Foxtail millet (Panicum italicum), tanaman Maja (Aegle marmelos). Bunga melati (Tabernaemontana-coronaria), dan tanaman urang aring (Eclipta alba). 
  6. Menurut tradisi kuno, bunga yang tumbuh di pemakaman atau tempat yang didedikasikan untuk para Dewa, tidak digunakan dalam perkawinan. Juga tidak digunakan untuk upacara kemakmuran atau tindakan penyimpangan.
  7. Sangat tabu menempelkan bunga merah pada pakaian, sebaiknya menempelkan bunga berwarna putih. Bunga untuk ritual yang berwarna merah bisa dikenakan di rambut. Tanaman akasia (Acacia Arabica var. Telia cupiess, Family Mimosaceae) tidak pernah digunakan dalam upacara apapun yang berhubungan dengan keberuntungan. Nama umum tanaman ini disebut Ram Kanta atau Ram Kati, merupakan simbolis bangsal Ram dan tidak dianggap menguntungkan. 
  8. Pohon yang berbuah asam, sebaiknya tidak digunakan dalam upacara. Meskipun banyak legenda yang berhubungan dengan tanaman ini, pohon dan buah asam tidak pernah digunakan untuk upacara yang menguntungkan. Karena makna buah yang 'asam' diyakini akan membuat upacara menjadi sia-sia dan kehilangan maknanya.


Seluruh tanaman dan bunga untuk ritual yang disebutkan ternyata juga sangat ampuh dijadikan sangat obat herba. Dan ribuan tahun yang lalu, ilmu tanaman obat sangat berkembang di India kuno. Tidak hanya digunakan untuk persembahan atau ritual, tanaman ini telah dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti hiasan dan pengobatan.

Referensi

  • Plan Myths And Tradition in India, by Shakti M. Gupta, 1968.
  • Flower preservation, image courtesy of Wikimedia Commons.
Bunga Untuk Ritual Dan Upacara, Makna Dan Pantangan Tradisi Bunga Untuk Ritual Dan Upacara, Makna Dan Pantangan Tradisi Reviewed by Suzy Amelya on 10/14/2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.